Kawah Ijen sebuah tempat yang eksotis yang tidak pernah berhenti dikagumi oleh para pengagumnya. Beragam cerita yang muncul dari tempat ini;  mulai dari cerita tentang indahnya panorama tempat ini, kemudian tentang kehidupan para penambang belerang yang perkasa membawa hingga 70 kg belerang dari kawah menuju puncak kemudian kembali menuruni gunung. Adapula kisah tentang analisis akibat jika kawah Ijen jebol dan akan timbul banjir kiriman ke desa-desa di hilirnya. Mari kita kupas satu per satu tentang cerita dari kawah Ijen.

 

Indahnya Panorama dari Kawah Ijen

Tidak usah diragukan lagi tentang keindahan panorama kawah Ijen; seluruh dunia sudah tahu dan sering melihat keindahan tempat ini. Jika diulas sedikit detailnya; kawasan Wisata Kawah Ijen masuk dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen dengan luas 2.560 hektare, termasuk hutan wisata seluas 92 hektare. Kawah Ijen ini terletak di puncak gunung Ijen di wilayah Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Mobang, Kabupaten Bondowoso. Kawah Ijen berada di ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut. Yang menarik adalah kawah ini terletak di tengah kaldera yang terluas di Pulau Jawa. Ukuran kaldera sekitar 20 kilometer. Ukuran kawahnya sendiri sekitar 960 meter x 600 meter dengan kedalaman 200 meter. Kawah ini terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera. 

 

Kawah Ijen merupakan salah satu kawah paling asam terbesar di dunia. Yaitu memiliki tingkat keasaman mendekati nol, sehingga bisa melarutkan tubuh manusia dengan cepat. Selain itu, suhu kawah yang mencapai 200 derajat celcius menambah takjub akan kawah yang sangat besar ini. Namun, dibalik semua itu, ternyata kawah ini menyajikan pesona keindahan yang menakjubkan.

 

 

 

Transportasi Menuju ke Kawah Ijen

Tahun 2014 merupakan tahun yang paling menggembirakan bagi pecinta kawah Ijen. Pada tahun ini, berkat jasa pak Bupati Azwar Anas yang luar biasa; jalan menuju tempat ini mulus bagai paha Amel Alvi. Sebelumnya jalan menuju tempat ini bak permukaan planet Mars. Penuh batu-batu besar yang licin jika hujan. Hanya bisa dilewati oleh motor bebek ringan, motor trail dan mobil Jeep 4WD. Jangan harap Xenia, Avanza, Innova dan kawan-kawannya bisa masuk. Hmmm, sekarang mobil Ferarri pun bisa tembus hingga ke kaki Gunung.

 

Jalur yang paling umum dilewati menuju Kawah Ijen adalah lewat Banyuwangi, bisa juga via Bondowoso dengan type jalan yang mirip-mirip. Rute Perjalanan dari Banyuwangi Kota Banyuwangi --> Licin -->

Paltuding --> Ijen. Paltuding merupakan kaki gunung Ijen jadi semua kendaraan hanya bisa sampai disini; selebihnya harus berjalan kaki.

 

Jika menggunakan kendaraan umum, dari kota Banyuwangi kita menuju ke terminal Sasak Perot/Banjarsari. Dan sini kita ganti kendaraan minibus jurusan Licin. Jarak Banyuwangi kota menuju Licin sekitar 15km. Jika menggunakan kendaraan bermotor roda dua atau mobil pribadi dapat ditempuh sekitar 30 menit. Dari desa Licin kita menuju kearah Sodong yang beijarak sekitar 8 km, melewati Jambu bisa ditempuh dengan naik Truk perkebunan atau ojek dan bisa juga dengan travel karena jalanan mudah di lalui oleh kendaraan. Perjalanan melewati perkebunan kopi dan cengkeh serta hutan tropika yang indah.

 

Setelah tiba di Sodong kita melanjutkan perjalanan lagi menuju ke Paltuding sekitar 10km dengan Truk/Ojek. Paltuding merupakan tempat bertemunya jalur lewat dari arah Bondowoso dan arah Banyuwangi.
Sekitar 6 km sebelum Pal Tuding kita akan melewati jalan yang dinamakan tanjakan erek-erek yang berupa belokan sekaligus tanjakan berbentuk S, yang memakan waktu sekitar satu jam, karena jalanan sering rusak oleh air hujan maupun truk pengangkut belerang setiap hari.

 

 

 

 

 

 

 

Superman-Superman dari Kawah Ijen

Banyak cerita tentang para penambang Belerang di kawah Ijen. Mulai dari cerita sedih hingga cerita yang basi yang biasa-biasa saja. Banyak juga yang meng-eksploitasi cerita sedih tentang para penambang ini dan digunakan untuk menarik audiens. Misalnya; tentang beratnya beban yang dipikul dari kawah menuju puncak kemudian menuju kaki gunung, kemudian tentang hasil yang tidak seberapa dan sebagainya. Ada beberapa hal yang perlu diluruskan tentang cerita-cerita sedih ini, sebagiannya benar adanya dan sebagian lagi hanya eksploitasi yang berlebihan. Sebagai berikut:

 

 

"Kerja Berat, Hasil Tidak Seberapa"

Benar adanya bahwa penambang-penambang ini merupakan Superman yang sesungguhnya. Dalam sekali angkut bapak-bapak ini bisa membawa hingga 60-80 kg per sekali angkut. Tidak main-main; selain beban berat mereka juga harus melewati medan yang luar biasa terjal. Itu belum seberapa; masih ada gas SO2 yang menyengat hidung, menyesakkan dada dan membuat mata perih yang harus mereka hirup setiap saat. Saya coba sendiri dan memang luar biasa efek gas ini. 

Bagaimana hasilnya? Dalam sehari rata-rata penghasilan bapak-bapak Superman ini sekitar Rp. 150.000,- (setiap kg-nya dihargai Rp. 900 - 1.000), jika rutin menambang bisa mendapat hingga Rp. 3-4 juta per bulan. Dan nilai ini untuk daerah Banyuwangi adalah angka yang layak untuk hidup. Tidak mewah tapi cukup untuk hidup sewajarnya. Jadi tidak begitu benar jika kehidupan bapak-bapak ini dikatakan (maaf) " seolah-olah miskin"

 

 

 

Bagaimana Cara Kerja Tambang Belerang di Kawah Ijen?
Saat pertama kali keluar dari perut Bumi, bentuk dari belerang ini adalah gas SO2 - jumlahnya tidak main-main, sekitar 360 ton gas Sulfur Dioksida yang dikeluarkan oleh kawah Ijen per hari-nya. Istilah ilmiah dari gas ini adalah gas Solfatara. Definisi Solfatara sendiri adalah area di sebuah gunung Api yang hanya mengeluarkan uap atau gas Belerang (Sulfur). Menurut penelitian, saat pertama kali keluar suhu dari uap Solfatara ini antara 250 - 300 derajat Celsius, sekitar 3 kali dari suhu air mendidih. Jadi jangan coba-coba mendekati gas Solfatara ini saat pertama kali keluar dari kawah. Proses selanjutnya, beberapa bagian kecil dari gas ini dialirkan melalui pipa-pipa berdiameter sekitar 15 cm dan saat gas tersebut melewati pipa akan  berubah menjadi cairan berwarna coklat dan kemudian menetes di lantai kawah. Proses ini bernama proses kondensasi dengan reaksi kimia (SO2 + 2H2S = 3S + 2H2O). Tetesan-tetesan ini lambat laun akan mengeras dan menjadi belerang-belerang padat. Padatan-padatan Belerang ini yang kemudian diangkut oleh para penambang dari kawah menuju ke puncak kemudian ke kaki gunung untuk  dijual dan kemudian digunakan di pabrik gula.

 

 

 

 

Bagaimana Api Biru Kawah Ijen terbentuk?
Joseph Stromberg dari Smithsonian berbicara pada fotografer Olivier Grunewald -- yang sedang membuat film dokumenter di Ijen bersama Regis Etienne, dari Society for Volcanology Jenewa -- untuk mendapatkan penjelasan apa yang sebenarnya terjadi pada Kawah Ijen.
Ini jawabannya: meski penampakan lava biru adalah nyata, bukan batuan cair itu yang bertanggung jawab atas warnanya. Pendar biru berasal dari gas sulfur.

"Cahaya biru itu, yang tak biasa ditemukan di gunung berapi, bukan disebabkan oleh lava itu sendiri -- penjelasan yang sering dimuat di di banyak situs," kata Grunewald, seperti dimuat
situs io9, Kamis (6/2/2014).
"Tapi disebabkan pembakaran gas belerang yang kontak dengan udara pada suhu di atas 360 derajat Celcius."
Di siang hari, lava yang muncul dari Bumi pada suhu amat tinggi di Ijen tak berbeda tampilan dengan lava di gunung lain -- yang memancarkan warna merah atau oranye, tergantung komposisi
mineralnya.
"Tetapi pada Kawah Ijen, gas belerang dengan kuantitas besar, bertekanan tinggi dan suhu luar biasa (kadang-kadang lebih dari 600 derajat Celcius) keluar bersama dengan lava ," tambah dia.
Saat kontak dengan oksigen di udara dan dipicu oleh lava, sulfur mudah terbakar dan memicu api yang berwarna biru cerah. "Membuatnya tampak seolah-olah lava biru mengalir di gunung," kata
Grunewald. Efeknya hanya terlihat pada malam hari.

 

Credit to Vert l'Horizon

 

 

Memadamkan Api Biru Kawah Ijen dengan Air Aki

Ada satu profesi yang jarang diketahui khalayak ada di Kawah Ijen; selain ada penambang, polisi hutan, tentara, penjaga warung ada juga profesi yang tidak kalah pentingnya di kawasan ini. Namanya adalah "Petugas Piket". Petugas Piket kawah Ijen biasanya berjumlah dua orang setiap malam dan tugasnya adalah memadamkan api biru di Kawah Ijen. Kenapa perlu dipadamkan?

Proses penambangan bisa dilakukan jika sulfur/belerang pada kondisi padat. Jika terjadi kebakaran sulfur yang terlalu besar, kemungkinan besar akan berpengaruh pada proses penambangan. Jumlah gas-gas yang tertangkap oleh pipa akan berkurang dan mengurangi uap yang terkondensasi. Bapak-bapak ini biasanya berangkat sore hari dan kembali ke-esokan harinya, seringnya pagi hari ketika penambang sudah mulai naik. Selama semalaman, petugas piket akan mengambil air dari kawah dan membawanya naik ke area yang terbakar. Perlu dicatat bahwa pH dari air kawah adalah 0,5 - 1 sedangkan pH normal air adalah 7. pH tersebut setara dengan keasaman air aki mobil. Nah terbayang kan bagaimana mereka harus hati-hati
mengambil air dari kawah, jangan sampai tumpah kena badan. Kalo saya disuruh beginian, nggak deh.

 

Ini dua foto bapak-bapak yang bertugas memadamkan api biru dengan air aki

 

 

 

Gear yang terlibat Nikon D40, Nikon D7000, Xiaomi Yi

 

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh