Pertama kali mendengar kalimat bulan berdarah, terbayang darah menetes di langit. Malam mencekam dan udara bau gak enak. Setelah melihat langsung, ternyata itu cuma kiasan semata. Bulannya gak merah-merah amat, hanya sedikit berwarna orange yang normalnya berwarna putih. Apa gerangan yang terjadi? 

 

Fenomena yang jarang terjadi. Karena orbit bulan paling dekat dengan bumilah mengapa blood moon terjadi. Menurut NASA, di tahun 1900-an hanya terjadi lima kali, yakni 1910, 1928, 1946, 1964, dan 1982. Setelah ini, blood moon tak akan terjadi sampai 8 Oktober 2033.

 

Gerhana Bulan "Blood Moon" di tahun 2015

 

Menarik untuk diketahui, gerhana bulan darah raksasa terakhir terjadi di tahun 1982, dan baru akan terjadi lagi tahun 2033. Selain kelangkaannya, gerhana bulan merah darah ternyata menyimpan beberapa fakta yang jarang diketahui publik. Apa saja? Berikut ulasannya.

 

Senjata Christopher Colombus tipu suku Indian

Tiba di sekitar pulau Jamaika, ketika melakukan ekspedisi keempatnya di benua Amerika, Christopher Colombus menggunakan kemunculan bulan darah atau blood moon untuk menipu suku Indian asli Jamaika. Saat mengalami masalah dengan penduduk pribumi, Colombus memperingatkan suku asli Jamaika jika Dewa akan marah jika mereka memperlakukan Colombus dan krunya dengan buruk. Ketika bulan darah muncul, sesuai dengan perkiraan ahli astronominya, suku asli Jamaika langsung berbondong membawakan Colombus makanan. Peristiwa itu terjadi di bulan Februari 1504.

 

Gerhana bulan darah 28 September disebut tanda kiamat
Berdasarkan buku berjudul 'Four Blood Moons' karya Pastur dari Amerika, John Hagee, gerhana bulan berdarah yang akan terjadi pada hari Paskah April lalu adalah gerhana bulan darah ketiga dalam rentetan empat gerhana bulan darah (tetrad blood moons) dalam kurun waktu dua tahun ini.

Sebelumnya, gerhana bulan darah pertama dan kedua sudah terjadi di tahun 2014. Gerhana bulan darah ketiga di malam Paskah lalu, sementara gerhana bulan darah terakhir terjadi hari ini.

Menanggapi kemunculan empat gerhana bulan darah dalam dua tahun secara beruntun, Pastur Hagee berpendapat bila ini adalah tanda 'akhir zaman'.

"Alkitab menyatakan 'bila kita melihat tanda-tanda itu', dan empat gerhana bulan darah adalah pertanda yang jelas dari akhir era ini," ujar Hagee.

 

Gerhana bulan darah tak berbahaya
Di sisi lain, badan antariksa NASA mengatakan bila gerhana bulan darah Paskah adalah sesuatu yang alami dan tidak berbahaya atau berdampak besar bagi manusia.

"Saat gerhana terjadi, bulan sering terlihat berwarna kemerah-merahan karena sinar matahari yang menimpanya melewati atmosfer bumi. Ketika itu, spektrum warna biru di cahaya matahari tersaring, sehingga yang tersisa hanya warna merah saja. Namun, fenomena ini tidak berbahaya bagi manusia," ungkap NASA.

Ya, berubahnya warna merah bulan bukan akibat hal-hal berbau mistis, tetapi karena bulan tertimpa bayangan dari Bumi.

 

Blood moon bisa berubah jadi supermoon
Di kawasan yang bisa melihat gerhana bulan darah, bulan juga nampak 14 persen lebih besar dari biasanya. Apa yang terjadi?

Ternyata, selain bulan purnama yang membuat bulan nampak besar, bulan juga tepat berada di lintasannya yang memiliki jarak paling dekat dengan Bumi. Ingat lintasan bulan berbentuk lonjong.

Menurut Space.com, jarak rata-rata antara bulan dan Bumi sekitar 384.600 kilometer. Nah, saat 'super blood moon' terjadi, jaraknya bisa tinggal 363.700 kilometer. Alhasil, tidak hanya 14 persen lebih besar, bulan juga terlihat lebih terang hingga 30 kali lipat.

Sumber: Kompas.com, Merdeka.com, NASA.com

Comments  

0 # cumilebay 2016-03-05 03:34
Serem kalo akhir zaman beberan terjadi :-(
Reply | Reply with quote | Quote
0 # I Putu Adi Artana 2016-03-05 03:38
Cepat atau lambat - akhir jaman pasti akan terjadi mas Cum. Referensi ilmiah ada disini.

fotosintesa.com/.../...
Reply | Reply with quote | Quote

Add comment


Security code
Refresh