×

Notice

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

SMTP connect() failed.

Jika anda pernah tinggal dalam waktu cukup lama di Tanah Luwu, terutama di daerah Sorowako, Nuha, Wasuponda, Wawondula, Timampu dan sekitarnya tentunya sangat familiar dengan suara gelegar petir. Frekuensi petir di daerah ini bisa dikatakan jauh di atas rata-rata frekuensi terjadinya petir daerah-darah lain (setidaknya yang pernah penulis tinggali dalam waktu yang cukup lama).  Tentunya ada penjelasan ilmiah tentang hal ini, namun kali ini penulis mencoba mencari benang merah (cocoklogi science) antara legenda atau cerita rakyat dari tanah Luwu dan hubungannya dengan seringnya petir terjadi disini. Untuk memahami lebih jauh, mari kita mulai dengan melihat sejarah kerajaan Luwu.

 

Sejarah kerajaan Luwu pada masa penjajahan Belanda dan Jepang

Sejarah Tanah Luwu sudah berawal jauh sebelum masa pemerintahan Hindia Belanda bermula. Sebelumnya Luwu telah menjadi sebuah kerajaan yang mewilayahi Tana Toraja (Makale, Rantepao) Sulawesi Selatan, Kolaka (Sulawesi Tenggara) dan Poso (Sulawesi Tengah). Hal sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama Tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading. Setelah Belanda menundukkan Luwu, mematahkan perlawanan Luwu pada pendaratan tentara Belanda yang ditantang oleh hulubalang Kerajaan Luwu Andi Tadda bersama dengan laskarnya di Ponjalae pantai Palopo pada tahun 1905. Belanda selanjutnya mebangun sarana dan prasarana untuk memenuhi keperluan pemerintah penjajah diseluruh wilayah kerajaan Luwu mulai dari Selatan, Pitumpanua ke utara Poso, dan dari Tenggara Kolaka (Mengkongga) ke Barat Tana Toraja. Pada Pemerintahan Hindia Belanda, sistem pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan, yaitu Pemerintahan tingkat tinggi dipegang langsung oleh Pihak Belanda dan Pemerintahan tingkat rendah dipegang oleh Pihak Swapraja.

Dengan terjadinya sistem pemerintahan dualisme dalam tata pemerintahan di Luwu pada masa itu, pemerintahan tingkat tinggi dipegang oleh Hindia Belanda, dan yang tingkat rendah dipegang oleh Swapraja tetapi tetap masih diatur oleh Belanda, namun secara de jure Pemerintahan Swapraja tetap ada. Menyusul setelah Belanda berkuasa penuh di Luwu,

maka wilayah Kerajaan Luwu mulai diperkecil, dan dipecah sesuai dengan kehendak dan kepentingan Belanda, yaitu: 

  • Poso (yang masuk Sulawesi Tengah sekarang) yang semula termasuk daerah Kerajaan Luwu dipisahkan, dan dibentuk satu Afdeling.
  • Distrik Pitumpanua (sekarang Kecamatan Pitumpanua dan Keera) dipisah dan dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Wajo.
  • Kemudian dibentuk satu afdeling di Luwu yang dikepalai oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Palopo.

Selanjutnya Afdeling Luwu dibagi menjadi 5 (lima) Onder Afdeling, yaitu: 

  • Onder Afdeling Palopo, dengan ibukotanya Palopo.
  • Onder Afdeling Makale, dengan ibukotanya Makale.
  • Onder Afdeling Masamba, dengan ibukotanya Masamba.
  • Onder Afdeling Malili, dengan ibukotanya Malili.
  • Onder Afdeling Mekongga, dengan ibukotanya Kolaka.  

Selanjutnya pada masa pendudukan tentara Dai Nippon, Pemerintah Jepang tidak mengubah sistem pemerintahan, yang diterapkan tentara Dai Noppon pada masa berkuasa di Luwu (Tahun 1942), pada prinsipnya hanya meneruskan sistem pemerintahan yang telah diterapkan oleh Belanda, hanya digantikan oleh pembesar-pembesar Jepang. Kedudukan Datu Luwu dalam sistem pemerintahan Sipil, sedangkan pemerintahan Militer dipegang oleh Pihak Jepang. Dalam menjalankan Pemerintahan Sipil, Datu Luwu diberi kebebasan, namun tetap diawasi secara ketat oleh pemerintahan Militer Jepang yang sewaktu-waktu siap menghukum pejabat sipil yang tidak menjalankan kehendak Jepang dan yang menjadi pemerintahan sipil atau Datu Luwu pada masa itu ialah " Andi Kambo Opu Tenrisompa" kemudian diganti oleh putranya "Andi Patiware" yang kemuadian bergelar "Andi Jemma".

 

 

Sejarah kerajaan Luwu jauh sebelum masa penjajahan

Tanah Luwu juga dikenal dengan nama Bumi Batara Guru. Berbicara tentang kapan berdirinya kerajaan Luwu belum ada sumber yang akurat yang bisa menjelaskan secara pasti tahun di dirikannya kerajaan Luwu tersebut. Sumber informasi acuan yang bisa dihipotesa saat ini tertulis dalam kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada jaman mahapatih Gajah Mada tahun 1364 M yang ada pada periode yang sama dengan masa keemasan kerajaan Majapahit. Dan sumber lain yang bisa dijadikan acuan hipotesa adalah cerita rakyat I Lagaligo yang terkenal seantero Nusantara.

 

Dalam Epos I Lagaligo yang merupakan sumber tertua sejarah Luwu yang berhasil dikumpulkan oleh sarjana Belanda B.F. Matthes tahun 1880. Disebutkan bahwa yang pertama mendirikan kerajaan ware’ (berpusat di sekitar daerah Ussu sekarang) bernama Batara Guru. Batara Guru adalah anak lelaki tertua dari To Patotoe dengan Datu Palinge.

Batara Guru dikisahkan sebagai manifestasi dari dewa yang diturunkan oleh Patoto’e ke bumi dimana pada saat terjadi kekosongan. Dalam penafsiran kata “kosong” oleh para sejarawan bermakna kekosongan pemerintahan yang mengatur kehidupan manusia dari kekacauan (Sianre Bale) di tana Ware.

 

Adapun latar belakang diturunkannya Batara Guru ke Bumi dapat kita ketahui dalam kitab I Lagaligo sebagai berikut:

Empat orang abdi di kerajaan Langit di sedang berkunjung ke Bumi. Di daerah kunjungan, empat orang abdi ini melakukan permainan badai, petir dan Guntur (kemungkinan daerah yang dimaksud adalah daerah Ussu sekarang). Dalam permainan itu, mereka melihat kekosongan (Sianre Bale – bisa juga berarti kekacauan) di dunia tengah (Ale Lino). Melihat situasi ini, empat orang abdi ini melapor ke Patoto’e (sang Dewa Penentu) tentang kekosongan ini.

 

 

 

Mendengar laporan para abdinya itu Patoto’e berpikir tentang perlunya diutus salah seorang penghuni langit untuk diturunkan ke Bumi agar bisa memakmurkan dan mendamaikannya. Karena PatotoE merasa ini adalah hal yang penting untuk kelangsungan hidup di Bumi dan Langit maka PatotoE mengundang seluruh kerajaan Dewa yang ada dikerajaan Langit (Boting Langi) dan kerajaan dasar Laut (Paratiwi /Uri Liu) untuk memutuskan siapa yang akan di utus  turun ke bumi.

Pertemuan ini menyepakati bahwa (juga atas kehendak dari istri Patoto’E yaitu Datu Palinge) diputuskanlah bahwa Putranyalah yang bernama La Toge Langi yang diutus turun ke Bumi untuk mengemban tugas ini. Yang kemudian dikenal dengan nama Batara Guru.

 

Dalam cerita selanjutnya Batara Guru pun diturunkankan ke Bumi (Ale Lino). Konon dalam cerita bahwa Batara Guru dimunculkan dari balik rumpun bambu kemudian disusul turunnya bekal kehidupan termasuk istana disekitar kampung “Ussu” yang kala itu masih hutan rimba dimana dari tempat ini menjadi awal mula pemerintahan “Ware”.

Batara Guru dipertemukan dengan Istrinya yang bernama We Nyiliq Timo yang masih merupakan sepupunya yang berasal dari kerajaan Laut (Para Tiwi). We Nyiliq Timo muncul di “Busa Empong” di perkirakan muncul di teluk “Ussu” waktu dipertemukan dengan Batara Guru. Dalam sumber lain dikatakan bahwa disamping menikahi We Nyiliq Timo Batara Guru juga menikah We Saungriu. Dari perkawinannya itu lahir Sangian Sari. Tetapi putri ini Mati muda dan dikisahkan bahwa dari perabuan Sangian sari tumbuh padi pertama di Luwu.

 

 

 

 Peta Wilayah Kedatuan Luwu menurut Epos I Lagaligo

 

Dalam sejarah digambarkan bahwa sebelum Batara Guru diturunkan dibumi, situasi masyarakat Bugis Kuno hidup dalam ketidak teraturan, mereka saling menyerang tanpa aturan yang jelas, situasi tidak aman, yang kuat memangsa yang lemah (Sianre Bale). Akibat dari ketidak teraturan itu maka masyarakat sangat merindukan yang namanya kedamaian. Disaat Masyarakat mengalami keterasingan jiwa, Batara Guru hadir membawa ajaran kebenaran yang menyangkut hal hal prinsif seperti “ Adele, Lempu,Tongeng dan Getteng “ ajaran tersebut sangat didukung oleh situasi sehingga membuat ajaran dan segala kebijakan pada pemerintahan Batara Guru sangat efektif di masyarakat.

 

 

Sosok seorang Batara Guru digambarkan oleh masyarakat itu amat dihormati karena disamping sebagai titisan Manusia Dewa, ia amat bijak dalam memerintah dan mempunyai tenaga yang kuat dan pemberani dalam melindungi penduduk dan hal ini diturunkan atau diwariskan secara turun temurun kepada pemimpin masyarakat Bugis yang dituangkan dalam simbol “ Pedang Emas, Payung Kerajaan dan Perisai ”.

 

Dari pernikahannya dengan We Nyiliq Timo, Batara Guru dikarunia seorang anak yang bernama Batara Lattu. Ia merupakan calon pemegang tahta kerajaan Luwu setelah Batara Guru. Beliau dilahirkan di istana Ware dilokasi segita (Bukit Finsemouni- Ussu- Cerekan). Dalam sumber sejarah dikatakan bahwa ketika Batara Lattu cukup dewasa, dan pemerintahan tegak kembali, Batara Guru memutuskan untuk kembali ke kerajaan Langit. Kekuasaan Ware pun diserahkan kepada Batara Lattu dan tetap dianggap sebagai Dewa.

Demikian seterusnya sehingga kedatuan Luwu memiliki daftar Datu sebagai berikut

 

  • Datu Luwu ke-1: Batara Guru, bergelar To Manurung
  • Datu Luwu ke-2: Batara Lattu’ memerintah selama 20 tahun.
  • 1268-1293: Datu Luwu ke-3: Simpurusiang
  • 1293-1330: Datu Luwu, ke-4: Anakaji
  • 1330-1365: Datu Luwu ke-5: Tampa Balusu
  • 1365-1402: Datu Luwu ke- 6: Tanra Balusu
  • 1402-1426: Datu Luwu ke-7: Toampanangi
  • 1426-1458: Datu Luwu ke-8: Batara Guru II
  • 1458-1465: Datu Luwu ke-9: La Mariawa
  • 1465-1507: Datu Luwu ke-10: Risaolebbi
  • 1507-1541: Datu Luwu ke-11: Dewaraja bergelar Maningoe’ ri Bajo
  • 1541-1556: Datu Luwu ke-12: Tosangkawana
  • 1556-1571: Datu Luwu ke-13: Maoge
  • 1571-1587: Datu Luwu ke-14: We Tenri Rawe’
  • 1587-1615: Datu Luwu ke-15: Andi Pattiware’ Daeng Parabung atau Pattiarase, bergelar Petta Matinroe’ Pattimang
  • 1615-1637: Datu Luwu ke-16: Patipasaung
  • 1637-1663: Datu Luwu ke-17: La Basso atau La Pakeubangan atau Sultan Ahmad Nazaruddin, bergelar Petta Matinroe’ ri Gowa (Lokkoe’)
  • 1663-1704: Datu Luwu ke-18 dan ke-20: Settiaraja, bergelar Petta Matinroe’ ri Tompoq Tikkaq
  • Datu Luwu ke-19: Petta Matinroe’ ri Polka, , memerintah ketika Settiaraja pergi membantu Gowa menghadapi VOC.
  • 1704-1715: Datu Luwu ke-21: La Onro Topalaguna, bergelar Petta Matinroe’ ri Langkanae’
  • 1706-1715: Datu Luwu ke-22: Batari Tungke, bergelar Sultan Fatimah Petta Matinroe’ ri Pattiro
  • 1715-1748: Datu Luwu ke-23: Batari Tojang, bergelar Sultan Zaenab Matinroe’ ri Tippulue’
  • 1748-1778: Datu Luwu ke-24 dan ke-26: We Tenri Leleang, bergelar Petta Matinroe’ ri Soreang
  • 1760-1765: Datu Luwu ke-25: Tosibengngareng, bergelar La Kaseng Patta Matinroe’ ri Kaluku Bodoe’
  • 1778-1810: Datu Luwu ke-27: La Tenri Peppang atau Daeng Pali’, bergelar Petta Matinroe’ ri Sabbangparu
  • 1810-1825: Datu Luwu ke-28: We Tenri Awaru atau Sultan Hawa, bergelar Petta Matinroe’ ri Tengngana Luwu
  • 1825-1854: Datu Luwu ke-29: La Oddang Pero, bergelar Petta Matinroe’ Kombong Beru
  • 1854-1880: Datu Luwu ke-30: Patipatau atau Abdul Karim Toapanyompa, bergelar Petta Matinroe’ ri Limpomajang,
  • 1880-1883: Datu Luwu ke-31: We Addi Luwu, bergelar Petta Matinroe’ Temmalullu
  • 1883-1901: Datu Luwu ke-32: Iskandar Opu Daeng Pali’, bergelar Petta Matinroe’ ri Matakko
  • 1901-1935: Datu Luwu ke-33: Andi Kambo atau Siti Husaimah Andi Kambo Opu Daeng Risompa Sultan Zaenab, bergelar Petta Matinroe’ ri Bintanna
  • 1935-1965: Datu Luwu ke-34 dan ke-26: Andi Jemma, bergelar Petta Matinroe’ ri Amaradekanna
  • Datu Luwu ke-35: Andi Jelling, , memerintah ketika Andi Jemma ditahan dan diasingkan oleh Belanda.

 

 

"Dari kisah diatas, bisa diambil benang merah hubungan antara badai petir dengan legenda yang tersebar di masyarakat. Tampaknya daerah ini merupakan tempat yang sering digunakan oleh abdi langit untuk permainan badai, petir dan guntur oleh para abdi langit. Hingga saat ini pun, ketika ada badai petir yang melanda kawasan ini, masyarakat percaya bahwa akan ada peristiwa besar yang terjadi dalam waktu dekat"

 

 


Sumber-sumber referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Luwu
https://sultansinindonesieblog.wordpress.com/sulawesi/datu-raja-van-luwu
https://zulhamhafid.wordpress.com/2014/01/25/profil-singkat-datu-luwu-ke-40/
http://sejarah.kompasiana.com/2014/01/23/andi-achmad-tokoh-sentral-perlawanan-rakyat-luwu-630086.html
Rimbah Alam A. Pangerang. 2009. Sejarah Singkat Kerajaan di Sulawesi Selatan. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009
Sarita Pawiloy. 2002. Ringkasan Sejarah Luwu. Makassar: CV Telaga Zamzam
Suriadi Mappangara. Ensiklopedi Sejarah Sulawesi Selatan Tahun 1905. Makassar: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
http://adhanbugis.blogspot.co.id/2013/12/awal-mula-berdirinya-kerajaan-luwu.html

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh